Minggu, 29 Januari 2012

TIGA KUNCI MERAIH SUKSES (LANJUTAN)


Sebagaimana telah disinggung di atas, produktivitas dapat ditingkatkan dengan tiga hal yang saling terkait dan berurutan, yaitu pengembangan diri, perubahan (kreativitas dan inovasi), dan kerja profesional. Berikut uraian singkat mengenai ketiga hal tersebut :

1. Pengembangan Diri

Sumber kebaikan atau keburukan manusia adalah hati atau jiwa, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an ; “Dan telah Aku jadikan jiwa dan penyempurnaannya, Maka Allah ilhamkan pada jiwa tersebut jalan keburukan dan kabaikan” (QS. Asy Syams : 7-8). Rasulullah SAW di salah satu haditsnya bersabda, “ Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging, yang apabila baik segumpal daging tersebut maka akan baiklah seluruhnya, dan apabila rusak segumpal daging itu, maka akan rusaklah  seluruhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah hati(HR. Bukhari dan Muslim).

Di hati itulah iman tertanam, tumbuh dan bersemi. Iman adalah keyakinan yang mendalam tentang keberadaan diri dan Tuhan yang menciptakannya. Orang yang memiliki iman adalah orang yang berhasil menemukan dan menguasai hakikat dirinya. Pengenalan diri yang benar akan memunculkan motif. Motif untuk tetap eksis, motif untuk berkembang, motif untuk berbuat dan menggapai cita-cita.

Setelah memiliki motif (motivasi) dalam hidup, maka kita akan dapat melihat diri kita yang sejati. Dari sana pernyataan jujur akan keluar ; “Aku harus mencapai apa yang kuinginkan”. Permasalahan selanjutnya tinggalah bagaimana mengungkap potensi diri, meningkatkan dan memanfaatkannya. Karenanya kita perlu melakukan pengembangan diri baik melalui penemuan diri maupun dengan bantuan pelatihan (training).

2.   Perubahan

Yang dimaksud dengan perubahan di sini adalah sebuah transisi yang menghantarkan keyakinan seseorang kepada realitas kerja yang produktif. Agar kita bisa melakukan perubahan dibutuhkan suatu kekuatan. Kekuatan dimaksud adalah skill, kreativitas dan daya inovasi yang kuat. Skill atau ketrampilan meliputi ketrampilan hidup (life skill) maupun ketrampilan belajar (life learning).

          Secara pribadi, kita harus belajar mengubah hidup ke arah yang lebih baik. Keadaan seseorang tidak akan berubah menjadi lebih baik kecuali orang itu sendiri memiliki kemauan mengubahnya. Di antara makhluk Allah, hanya manusia yang mampu mengubah keadaannya sendiri menjadi lebih baik. Manusia diberi kemampuan melihat, mendengar, berfikir dengan akal (intelektual) dan hati (emosional), serta kemampuan memilih yang terbaik dari beberapa pilihan yang tersedia.

      Dalam kehidupan manusia, perubahan merupakan suatu kepastian yang tidak dapat dihindari. Perubahan pribadi, keluarga, masyarakat, organisasi, bangsa dan negara selalu terjadi pada diri kita dan di sekitar kita. Secara pribadi, manusia mengalami perubahan sejak lahir  baik jasmani dan  ruhaninya maupun cara  berpikirnya. Perubahan pribadi tersebut akan selalu dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara.

Dalam mensikapi perubahan, manusia dibedakan menjadi dua golongan, yaitu orang yang sukses dan orang yang gagal.  Orang yang sukses adalah orang yang siap menerima dan menghadapi perubahan, bukan orang yang menolak dan menghindar dari perubahan. Hanya mereka yang mampu menyiasati perubahanlah yang pada umumnya dapat meraih sukses besar, atau setidaknya mampu mempertahankan kinerja unggul yang telah diraih. Orang yang gagal adalah orang yang tidak siap menerima perubahan sehingga ia lebih cenderung menghindarinya dan tidak mampu menyiasati perubahan dengan baik.

Menyiasati kondisi yang cepat berubah bisa membuat orang frustasi dan kehilangan jati diri. Tentu saja tidak sedikit di antara kita gamang, galau, dan cemas ketika dihadapkan pada perubahan yang datang secara mendadak. Sebagian besar perubahan justru mendatangkan bencana baru yang langsung maupun tidak langsung mengancam eksistensi komunitas dan organisasi yang telah mapan. Konsekuensi logisnya, siapa saja yang tidak memiliki bekal memadai untuk menghadapinya, tentu tidak akan mampu eksis dan melanjutkan peran.

          Pada hakekatnya perubahan menuntut semua pihak bersikap lebih arif tentang apa yang harus berubah total dan apa saja yang mesti tetap dipertahankan demi keberlangsungan dan kebermaknaan kehidupan itu sendiri. Kondisi kemiskinan, keterbelakangan dan ketidakberdayaan harus berubah menjadi kesejahteraan, kemajuan dan  kemandirian. Sementara aqidah, etika, akhlaq, syariah dan keutuhan manusia harus tetap menjadi sesuatu yang tidak berubah sepanjang masa.



3. Kerja Profesional

          Orang-orang yang beriman telah memiliki landasan spirituil untuk melakukan kerja profesional, yaitu “Bekerjalah kamu maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan menilai pekerjaan itu”. (QS. 9 : 105). “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan penampilan kamu, akan tetapi Allah melihat hati dan kerja kamu”. (Al-Hadits).

          Kerja profesional adalah proses menghasilkan suatu produk yang dilandasi oleh niat yang kuat dan pemahaman yang benar mengenai kerja yang dilakukannya. Hasil akhir kita bekerja adalah produk, sedangkan produktivitas adalah kemampuan kita untuk menghasilkan sesuatu. Produktivitas dikatakan tinggi jika produk yang kita hasilkan tinggi sementara bahan dan waktu yang kita perlukan sedikit.

Hasil akhir kita bekerja dapat berupa barang atau jasa. Proses kerja yang baik akan menghasilkan kualitas barang atau jasa yang baik pula. Hasil barang yang berkualitas baik bercirikan ; kuat sesuai dengan tampilan, disain menarik, pemeliharaan murah, sesuai kebutuhan (standar), awet, teknologi tepat, warna menarik, pengepakan yang bagus dan aman, dengan jaminan dan memiliki daya saing. Hasil jasa yang berkualitas bercirikan; pasti, cepat, tepat, urut, menyenangkan, sejuk, nyaman, aman, pelayanan tambahan, murah, dipercaya, dan tidak mengecewakan. Wallahu a’lam Bisshowwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar