Sebagaimana telah disinggung di atas, produktivitas dapat ditingkatkan dengan tiga hal yang saling terkait
dan berurutan, yaitu pengembangan diri, perubahan (kreativitas dan inovasi),
dan kerja profesional. Berikut uraian singkat mengenai ketiga hal tersebut :
1. Pengembangan Diri
Sumber
kebaikan atau keburukan manusia adalah hati atau jiwa, sebagaimana diterangkan
dalam Al-Qur’an ; “Dan telah Aku jadikan
jiwa dan penyempurnaannya, Maka Allah ilhamkan pada jiwa tersebut jalan
keburukan dan kabaikan” (QS. Asy Syams : 7-8).
Rasulullah SAW di salah satu haditsnya bersabda, “ Sesungguhnya
di dalam tubuh manusia itu terdapat segumpal daging, yang apabila baik segumpal
daging tersebut maka akan baiklah seluruhnya, dan apabila rusak segumpal daging
itu, maka akan rusaklah seluruhnya.
Ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di hati
itulah iman tertanam, tumbuh dan bersemi. Iman adalah keyakinan yang mendalam
tentang keberadaan diri dan Tuhan yang menciptakannya. Orang yang memiliki iman
adalah orang yang berhasil menemukan dan menguasai hakikat dirinya. Pengenalan
diri yang benar akan memunculkan motif. Motif untuk tetap eksis, motif untuk
berkembang, motif untuk berbuat dan menggapai cita-cita.
Setelah
memiliki motif (motivasi) dalam hidup, maka kita akan dapat melihat diri kita
yang sejati. Dari sana
pernyataan jujur akan keluar ; “Aku harus mencapai apa yang kuinginkan”.
Permasalahan selanjutnya tinggalah bagaimana mengungkap potensi diri,
meningkatkan dan memanfaatkannya. Karenanya kita perlu melakukan pengembangan
diri baik melalui penemuan diri maupun dengan bantuan pelatihan (training).
2. Perubahan
Yang dimaksud dengan perubahan di
sini adalah sebuah transisi yang menghantarkan keyakinan seseorang kepada
realitas kerja yang produktif. Agar kita bisa melakukan perubahan dibutuhkan
suatu kekuatan. Kekuatan dimaksud adalah skill, kreativitas dan daya inovasi
yang kuat. Skill atau ketrampilan meliputi ketrampilan hidup (life skill)
maupun ketrampilan belajar (life learning).
Secara
pribadi, kita harus belajar mengubah hidup ke arah yang lebih baik. Keadaan
seseorang tidak akan berubah menjadi lebih baik kecuali orang itu sendiri
memiliki kemauan mengubahnya. Di antara makhluk Allah, hanya manusia yang mampu
mengubah keadaannya sendiri menjadi lebih baik. Manusia diberi kemampuan
melihat, mendengar, berfikir dengan akal (intelektual) dan hati (emosional),
serta kemampuan memilih yang terbaik dari beberapa pilihan yang tersedia.
Dalam
kehidupan manusia, perubahan merupakan suatu kepastian yang tidak dapat
dihindari. Perubahan pribadi, keluarga, masyarakat, organisasi, bangsa dan
negara selalu terjadi pada diri kita dan di sekitar kita. Secara pribadi,
manusia mengalami perubahan sejak lahir
baik jasmani dan ruhaninya maupun
cara berpikirnya. Perubahan pribadi
tersebut akan selalu dipengaruhi dan mempengaruhi perubahan dalam kehidupan
berkeluarga, bermasyarakat, berorganisasi, berbangsa dan bernegara.
Dalam mensikapi perubahan, manusia
dibedakan menjadi dua golongan, yaitu orang yang sukses dan orang yang
gagal. Orang yang sukses adalah orang
yang siap menerima dan menghadapi perubahan, bukan orang yang menolak dan
menghindar dari perubahan. Hanya mereka yang mampu menyiasati perubahanlah yang
pada umumnya dapat meraih sukses besar, atau setidaknya mampu mempertahankan
kinerja unggul yang telah diraih. Orang yang gagal adalah orang yang tidak siap
menerima perubahan sehingga ia lebih cenderung menghindarinya dan tidak mampu
menyiasati perubahan dengan baik.
Menyiasati kondisi yang cepat berubah
bisa membuat orang frustasi dan kehilangan jati diri. Tentu saja tidak sedikit
di antara kita gamang, galau, dan cemas ketika dihadapkan pada perubahan yang
datang secara mendadak. Sebagian besar perubahan justru mendatangkan bencana
baru yang langsung maupun tidak langsung mengancam eksistensi komunitas dan
organisasi yang telah mapan. Konsekuensi logisnya, siapa saja yang tidak
memiliki bekal memadai untuk menghadapinya, tentu tidak akan mampu eksis dan
melanjutkan peran.
Pada
hakekatnya perubahan menuntut semua pihak bersikap lebih arif tentang apa yang
harus berubah total dan apa saja yang mesti tetap dipertahankan demi
keberlangsungan dan kebermaknaan kehidupan itu sendiri. Kondisi kemiskinan,
keterbelakangan dan ketidakberdayaan harus berubah menjadi kesejahteraan,
kemajuan dan kemandirian. Sementara
aqidah, etika, akhlaq, syariah dan keutuhan manusia harus tetap menjadi sesuatu
yang tidak berubah sepanjang masa.
3. Kerja Profesional
Orang-orang
yang beriman telah memiliki landasan spirituil untuk melakukan kerja
profesional, yaitu “Bekerjalah kamu maka Allah dan RasulNya serta orang-orang
mukmin akan menilai pekerjaan itu”. (QS. 9 :
105). “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan penampilan kamu,
akan tetapi Allah melihat hati dan kerja kamu”. (Al-Hadits).
Kerja
profesional adalah proses menghasilkan suatu produk yang dilandasi oleh niat
yang kuat dan pemahaman yang benar mengenai kerja yang dilakukannya. Hasil
akhir kita bekerja adalah produk, sedangkan produktivitas adalah kemampuan kita
untuk menghasilkan sesuatu. Produktivitas dikatakan tinggi jika produk yang
kita hasilkan tinggi sementara bahan dan waktu yang kita perlukan sedikit.
Hasil akhir
kita bekerja dapat berupa barang atau jasa. Proses kerja yang baik akan
menghasilkan kualitas barang atau jasa yang baik pula. Hasil barang yang
berkualitas baik bercirikan ; kuat sesuai dengan tampilan, disain menarik,
pemeliharaan murah, sesuai kebutuhan (standar), awet, teknologi tepat, warna
menarik, pengepakan yang bagus dan aman, dengan jaminan dan memiliki daya
saing. Hasil jasa yang berkualitas bercirikan; pasti, cepat, tepat, urut,
menyenangkan, sejuk, nyaman, aman, pelayanan tambahan, murah, dipercaya, dan
tidak mengecewakan. Wallahu a’lam Bisshowwab